Read, With the Name of Your Lord Who Created

Membentuk Perilaku Alternatif

Posted by triaslama on May 30, 2008

Bumi ini cukup untuk menghidupi semua manusia, tapi mungkin tidak cukup untuk memenuhi kerakusan satu orang saja (Mahatma Gandhi).

Selama ini kita mungkin sangat menikmati berbagai kemajuan yang ada. Ingin pergi kemana kita bisa menggunakan sepeda motor, bis, mobil, ataupun kereta. Jika tujuan kita sangat jauh mungkin kita akan naik pesawat.

Mengapa seseorang menggunakan mobil? Pertama, karena dia memerlukannya dan mungkin memang tidak ada alternatif lain. Kedua, dia terbiasa menggunakannya dan telah merasa nyaman karenanya (meskipun sebenarnya tidak terpaksa dan alternatif lainpun tersedia). Ketiga, mungkin ada yang menggunakan mobil karena itu menunjukkan status sosialnya (semakin bagus mobilnya semakin terlihat keren). Keempat dan seterusnya, tentunya masih ada alasan lain selain ketiga alasan tersebut.

Terkadang saya berfikir seperti ini “Mengapa kita tidak mencoba mengurangi beban yang sudah ditanggung oleh bumi ini?” Eksplorasi (eksploitasi) yang terus menerus dilakukan (dan sepertinya sulit untuk dihentikan), industri yang terus tumbuh, jumlah penduduk yang terus bertambah, perilaku yang kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan juga terhadap manusia, dan lain sebagainya.

Setiap bahan bakar fosil yang kita pakai untuk mobil ataupun kendaraan kita, atau kebutuhan yang lain sadarilah bahwa bahan bakar itu merupakan proses selama ribuan tahun. Saat ini kita bisa menikmatinya, tapi selanjutnya bagaimana dengan generasi berikutnya? Apakah nantinya mereka hanya akan mendengar cerita tentang bahan bakar minyak yang bisa menggerakkan mesin?

Kalau hidup kita boros keterlaluan mungkin kita perlu tambahan bumi yang lain! Saat ini penelitian mengenai energi alternatif masih banyak menemui kendala, jadi kita perlu perilaku alternatif untuk menghemat energi.

Indonesia dengan penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa, sangat wajar jika subsidi untuk suatu komoditas akan memerlukan biaya yang sangat besar karena besarnya jumlah orang yang harus di subsidi. Hal ini akan semakin parah jika perilaku sebagian besar orangnya tidak dapat menggunakan energi secara benar dan cenderung menyia – nyiakannya untuk hal yang tidak berguna.

Setiap terjadi kenaikan harga pada komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak (misalnya: BBM), entah itu karena akumulasi kesalahan masa lalu ataupun sebab lainnya hampir bisa dipastikan akan menimbulkan reaksi yang sangat besar. Dari yang kecewa, demo besar – besaran, atau yang lebih parah keributan bisa terjadi di mana – mana. Tanggapan atas kenaikan harganya pun beragam, ada yang biasa – biasa saja, ada yang kecewa, ada yang prihatin, ada yang marah – marah, bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai komoditas politik yang laku di pasaran (dan tentu saja untuk kepentingan sendiri).

Pergunakanlah energi yang kita punya secara lebih bijaksana, terlebih jika energi itu adalah sesuatu yang tidak terbarukan. Jadi, tidak perlu malu untuk bepergian misalnya dengan busway / bus transjakarta (dengan segala keterbatasannya) meskipun sebenarnya di rumah mobil juga ada. Tidak perlu sungkan pergi dengan jalan kaki kalau memang tujuannya tidak terlalu jauh meskipun pakai mobil juga bisa. Ada baiknya kita menggunakan sepeda untuk tujuan tertentu meskipun itu bukan satu – satunya cara.

Jika di rumah memakai AC, sangat bijaksana kalau kita menghidupkannya ketika memerlukannya dan segera mematikannya setelah selesai. TV, komputer, lampu, dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan lagi sebaiknya dimatikan.

Ini bukan karena masalah apakah kita bisa membayarnya atau bukan, yang kita perlukan adalah menggunakan sesuatu secara wajar dan menggunakan sesuatu sesuai dengan apa yang kita perlukan. Selebihnya, biarlah itu kita gunakan untuk waktu yang lain. Karena katanya sih, bumi ini titipan dari anak cucu kita bukan warisan dari nenek moyang kita.

2 Responses to “Membentuk Perilaku Alternatif”

  1. Iya, ayo kita mulai hemat energi dari diri sendiri. Hal sesimpel mematikan lampu setelah keluar dari kamar mandi akan membuat banyak perbedaan kalau diakumulasikan banyak orang dan dalam jangka waktu yang panjang.

  2. triaslama said

    Ya, mulai dari diri sendiri dulu selanjutnya mudah – mudahan makin banyak yang mengikuti kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: