Read, With the Name of Your Lord Who Created

Jakarta Dalam Sebuah Resume

Posted by triaslama on February 10, 2008

Setelah empat bulan lebih berada di Jakarta, aku mulai mendapat gambaran tentang bagaimana sebenarnya kota terbesar Indonesia ini. Meskipun sebelumnya aku telah beberapa kali berkunjung ke Jakarta tapi itu hanya terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama, sedangkan gambaran tentang Jakarta selama ini lebih banyak kudapat dari cerita orang – orang disekitarku. Misalnya saja kakak-ku yang telah lama tinggal di Jakarta bercerita tentang kota ini (lalu lintas macet lah, perekonomian, wilayah di Jakarta dll.), om ku bercerita tentang suasana kerja di Jakarta, teman – teman yang terkadang memberikan opini tentang kota Jakarta.

Salah satu pertanyaan yang pertama kali terlintas ketika aku harus kerja di Jakarta “Apa aku bisa betah dengan suasana di Jakarta??”. Terlebih lagi banyak kudengar suara – suara yang menyiratkan citra negatif tentang ibukota ini, menurut salah satu keponakanku ibarat musik Jakarta itu ‘Rock n Roll’, siap – siap nahan stres kalo lagi kena macet, harus waspada dan siap kebanjiran kalo musim hujan, hati – hati dengan pergaulan disana, dan lain – lain, dan lain – lain, dll., masih banyak lagi yang lainnya.

Rasanya langsung tercipta stigma di pikiran ku bahwa “pindah ke Jakarta siap – siap lah dapat banyak masalah”. Tapi akhirnya tuntutan profesi sebagai seorang ‘Computer Scientist’ (wah mungkin terlalu berlebihan ya, aku kan baru lulus sarjana (S1) ilmu komputer -tapi cita – cita boleh kan-) membawa ku hadir di ibukota Indonesia ini berbekal ilmu, doa dari orang – orang terdekat (terutama ibuku), serta saran dari orang – orang yang lebih berpengalaman aku akhirnya berangkat juga ke Jakarta karena pekerjaan sudah menanti (aku bersyukur bisa dapat kerja sebelum wisuda sehingga nggak merasa terlalu nganggur, terima kasih ya Allah).

Akhirnya aku harus meninggalkan Jogja -kota tercintaku selama ini- menuju Jakarta -kota yang menurutku menyimpan banyak misteri dan pertanyaan untuk kutemukan sendiri jawabannya-. Yang paling berat ketika harus meninggalkan Jogja adalah meninggalkan ibuku sendirian (bunda maaf ya kalau kepergian anak mu membuat engkau sendiri).

Disela – sela rutinitas pekerjaan aku menyempatkan diri untuk mengenal Jakarta lebih jauh, rasanya bersemangat ketika aku akan mengunjungi suatu daerah di ibukota ini yang belum pernah ku datangi sebelumnya atau daerah yang sudah lama tidak kukunjungi. Blok M, Mangga Dua, Sudirman, Kota, Glodok, dan tempat lainnya. Akhirnya untuk sementara aku berasumsi bahwa Jakarta menurutku tidak se-ngeri yang kudengar sebelumnya, hal ini tentu dengan tidak mengesampingkan bahwa Jakarta mempunyai masalah – masalah kronis yang sangat sulit untuk dicari solusinya. Disini aku hanya berusaha menilai masalah secara objektif.

Syukurlah aku disini tinggal bareng dengan kakak ku, jadi tetap dekat dengan keluarga. Dan satu hal yang saat ini ada di pikiranku “Aku ingin tinggal di Jakarta lebih lama lagi dan mengenal kota ini lebih jauh lagi”. Ada baiknya juga kalau kita mengenal sesuatu bukan hanya dari kata orang yang mungkin akan banyak menimbulkan buruk sangka dan membuat kita memandang sesuatu dari arah yang keliru.

Soal masalah perkotaan kukira kota – kota besar lain juga mempunyai masalah serupa, tetapi dengan tingkatan yang berbeda – beda. Soal kemacetan Jakarta rasanya memang kota paling macet di Indonesia, mungkin malah salah satu yang paling macet di dunia! Tapi beruntung sekarang ada busway (bus transjakarta). Soal makanan ternyata -ini baru kutahu setelah aku mulai bekerja di Jakarta- di Jakarta banyak makanan enak!. Soal banjir, beruntung rumah kakak ku tidak terkena banjir hanya saja kami jadi terisolasi kalau banjir tiba karena tidak bisa kemana – mana juga. Soal hiburan & tempat rekreasi rasanya Jakarta salah satu yang paling lengkap dari wisata budaya, mal, sampai tempat rekreasi yang lain ada!

Semoga aku mendapat lebih banyak pengalaman berharga dan takdir Allah yang membuat ku tinggal di Jakarta akan membuat ku lebih bersyukur dengan apa yang selama ini kumiliki. Amin…

(Tri Sugiyantowo / triaslama)

3 Responses to “Jakarta Dalam Sebuah Resume”

  1. ferdi said

    hai teman, mari kita taklukkan Jakarta. kalo perlu kita taklukkan juga negara lain **pengennya sih gitu😀

  2. wah,resume yang menarik..salam kenal pak,sama2 pendatang di jakarta…

  3. wimkhan said

    Wah tri. post mu ini keren. semoga suatu hari aku bisa ketemu dengan kamu dengan tampilan dan wajah yang berbeda (more Computer Scientist maksudku)….. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: